
Sejarah Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Indonesia
Sidogiri dibabat oleh seorang Sayyid dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban.
Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.
Sayyid Sulaiman membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.
Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarakah.
Tahun Berdiri
Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.
Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun/ikhtibar Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.
Tahun Bersejarah Pesantren Sidogiri
- 1158 H atau 1745 M, Mbah Sayid Sulaiman membabat tanah Sidogiri yang saat itu masih berupa hutan belantara. Beliau adalah putra pertama pasangan Sayid Abdurrahman bin Umar ba Syaiban dan Syarifah Khadijah, cucu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Beliau memiliki garis keturunan dari Hadramaut, Yaman. Ditemani oleh seorang santrinya, Aminulloh, asal pulau Bawean, beliau mendirikan sebuah pesantren yang di kemudian hari dikenal dengan nama Pondok Pesantren Sidogiri.
- Pertengahan abad ke-18 M, kepengasuhan dipangku oleh KH. Aminullah asal Bawean kelahiran Hadhramaut. Beliau adalah santri pertama sekaligus menantu Mbah Sayid Sulaiman .
- Sekitar akhir abad ke-18 M, kepengasuhan dipangku Kiai Mahalli, santri KH. Aminullah asal Bawean yang juga turut membantu membabat tanah Sidogiri. Menantu KH. Aminullah ini diperkirakan wafat pada awal 1800-an dan hingga kini pasarean beliau tidak diketahui tempatnya.
- Sekitar awal s.d pertengahan abad ke-19 M, KH. Noerhasan bin Noerkhotim menjadi pengasuh. Santri asal Bangkalan itu adalah keturunan Sayid Sulaiman dari jalur Kiai Noerkhotim bin Kiai Asror bin Abdullah bin Sulaiman. Diambil mantu oleh Kiai Mahalli. Pernah berguru kepada Sayid Abu Bakar Syatha, pengarang I’ânatuth-Thâlibîn. Mulai merintis pengajian kitab-kitab besar seperti Ihya’ Ulumuddin, Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim. Merintis kegiatan pembacaan shawalat ba’da maghrib dan peletak pertama pambangunan Surau Daerah H.
- Sekitar pertengahan ke-19 s.d awal abad ke-20 M, KH. Bahar bin Noerhasan melanjutkan estafet kepengasuhan. Bersama adiknya KH. Nawawie, nyantri kepada Syaikhona Kholil di Bangkalan.
- Awal abad ke-19 M, pengasuh dijabat oleh KH. Nawawie bin Noerhasan. Termasuk kiai khos yang dimintai pendapat oleh KH Hasyim Asy’ari sebelum pendirian NU. Menjadi Mustasyar NU hingga akhir hayat.
- Awal abad ke-19 M, KH. Abd. Adzim bin Oerip, menantu tertua KH Nawawie menjadi pangasuh.
- Awal abad ke-19 s.d 1947 M, KH. Abd. Djalil bin Fadhil, menantu kedua KH Nawawie menjadi pangasuh hingga wafat di tangan penjajah Belanda.antarafoto-1313129417-
- 14 Shafar 1357 H atau 15 April 1938 M, KH. Abd. Djalil mendirikan madrasah yang diberi nama Madrasah Miftahul Ulum (MMU). Sejak saat itu PPS mulai memakai dua sistem pendidikan, sistem pengajian ma’hadiyah dan sistem madrasiyah (klasikal).
- 1936 M, gedung MMU pertama kali dibangun dalam tempo dua tahun. Saat ini dialihfungsikan menjadi gedung perpustakaan.
- 1947 M, KH. Abd Djalil wafat pada, kemudian PPS diasuh oleh KH. Cholil Nawawie. Pada saat itulah, dibentuk suatu wadah permusyawaratan yang diberi nama Pancawarga. Anggotanya adalah lima putra KH. Nawawie bin Noerhasan, yaitu: KH. Noerhasan (w. 1967), KH. Cholil (w. 1978), KH. Siradjul-Millah Waddin (w. 1988), KA. Sa’doellah (w. 1972) dan KH. Hasani (w. 2001).
- 1952 M, MMU mulai mengeluarkan ijazah pertama kali (Tingkat Ibtidaiyah) dan 1962 M (Tsanawiyah).
- Dzul Hijjah 1376 H atau Juli 1957 M, MMU Tsanawiyah didirikan sebagai jenjang pendidikan kedua setelah Madrasah Ibtidaiyah.
- 1961 M, KA. Sadoellah Nawawi membuka madrasah ranting (fillial). Dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan madrasah di sekitar PPS.
- 1961 M, KH. Cholil Nawawie (Pengasuh) dan KA. Sadeollah Nawawie (Ketua Umum) menggagas pengiriman guru tugas.
- 1961 M, KA. Sadoellah Nawawie merintis Kopontren Sidogiri. Awal berdiri, Kopontren Sidogiri hanya berupa kedai makanan dan toko kelontong sederhana. Kopontren Sidogiri resmi berbadan hukum sejak 15 Juli 1997.
- 1964 M, Kahanas (Kaderisasi Ahlusunah wal Jamaah) lahir. Pada tahun 1973 diganti menjadi Annajah. Di masa awal, kegiatan Annajah dikhususkan bagi murid kelas III Ts. Sejak tahun 1984 kegiatan pembekalan ini mulai dibuka untuk kelas I dan II Ts dengan fokus materi yang berbeda.
- 1965 M, lambang resmi pesantren dibuat oleh HM. Usman Anis berdasarkan ide K. Sadoellah Nawawie dengan tujuan untuk memperjelas dan mempertegas identitas santri. Sebelumnya sudah ada lambang yang dikenal dengan singkatan PAPSID (Pelajar Asrama Pesantren Sidogiri).
- 1978 (21 Ramadan), KH. Kholil Nawawi wafat. Digantikan oleh KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil
- 03 (atau 13) Muharam 1403/21 Oktober 1982 MMU Aliyah didirikan sebagai jenjang pendidikan tertinggi untuk menampung santri purna tugas.
- 1983 M, Perpustakaan Sidogiri berdiri. koleksi pertamanya adalah kitab-kitab koleksi KH. Kholil Nawawie yang diwakafkan untuk santri.
- 1983 (versi lain 1987) M, Balai Pengobatan Sidogiri resmi berdiri. Sejak tahun 2004, BPS mulai membuka layanan kesehatan untuk masyarakat umum.
- 14 Syawal 1409 H/21 Mei 1989 M, MMU tingkat Istidadiyah didirikan sebagai fase persiapan bagi santri baru.
- 1989 M, PPS mendirikan Labsoma (Laboratorium Soal Madrasah). Anggotanya khusus direkrut untuk merancang, menyusun dan mengoreksi soal-soal ujian.
- 1412 H/1991-1992, Lembaga Pengembangan Bahasa Arab dan Asing (LPBAA) resmi berdiri.
- 1991 M, latihan seni hadrah ala ISHARI mulai dibuka untuk santri.
- 28 Muharam 1414 H/18 Juli 1993 M, Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) didirikan sebagai wadah bagi murid-murid MMU Aliyah
- 1414 H/ 1994 M, DAS (Darul Aitam Sidogiri) didirikan, berlokasi di Jl. Benowo Simolawang Simokerto Surabaya. Sejak tahun 1419 H, pengelolaan DAS Surabaya diserahkan kepada PPS.
- 1415 H/1994 M, Majalah IJTIHAD terbit perdana sebanyak 24 halaman hitam-putih. Dikelola oleh OMIM MMU Aliyah. IJTIHAD adalah media pertama di PPS sebelum berkembang hingga mencapai 17 media seperti saat ini.
- 1419 H, balai tamu atau ruang pertemuan santri dengan walinya dibangun.
- 1419 H, pelatihan bela diri dibuka atas anjuran KH. Hasani Nawawie.
- 1419 H, mading HIMMAH terbit perdana. Juga dikelola oleh OMIM.
- 1988 M, P3S didirkan dengan nama Pekerjaan Umum (PU). Tahun 1996 diganti nama menjadi Pekerjaan Umum dan Pembangunan (PUPEM). Tahun 2003 diganti lagi menjadi Pengadaan, Perbaikan, dan Perawatan Sarana (P3S).
- 1993/1414 OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah) lahir atas prakarsa Drs. M. Zainal Falah, S.Hud dan Anwar Sadad Usma, M.Ag.
- 1420 H, Mading Maktabati terbit, dikelola oleh Perpustakaan Sidogiri. Dan pada 1420-1421 Mading Himmah terbit perdana. Tahun 1421/2000 Mading Ibtikar terbit. Mading Madinah Jumat, 29 Muharram 1423
- 1421 H/2000 M, PPS mulai membuka kursus bahasa Inggris pertama kali melalui LPBAA atas perintah KH. Abdul Alim bin Abdul Djalil.
- 1421 H, start pembangunan MMU as-Suyuthi, 36 lokal, 3 lantai.
- 15 Syaban 1422 H/01 Nopember 2001 M, IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) berdiri.
- 15 Syaban 1422 H/01 Nopember 2001 M, ISS (Ikatan Santri Sidogiri) berdiri.
- 1422 H, kelas program khusus (PK) dengan sistem akselarasi atau percepatan mulai dibuka.
- 1423 H, Silaturrahim Nasional pertama IASS.
- 1425-1426 H, MMU Aliyah mulai menerapkan sistem kejuruan di kelas II dan kelas III dengan tiga jurusan: Tarbiyah (pendidikan), Dakwah, dan Muamalah (ekonomi syariah).
- 28 Dzul Qadah 1425 H/2005 M, KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil wafat. Digantikan oleh KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil
- 1426 H, peletakaan batu pertama kantor IASS di Desa Sungikulon Pohjentrek Pasuruan.
- Syaban 1426 H, Buletin SIDOGIRI diterbitkan pertama kali oleh Majelis Keluarga.
- 1426 H, start pembangunan Kantor Sekretariat yang baru.
- 1426-27 H, pengiriman dai ke daerah-daerah minus ilmu agama Islam dimulai.
- 20 Rabiul Awal 1427 H/April 2006 M, Pustaka Sidogiri berdiri dengan nama CV. Pustaka Sidogiri as-Salafy. PS mengusung motto, “Benteng Ahlussunnah wal Jamaah”.
- 23 Syaban 1428 H/September 2007 M, peletakan batu pertama DKS Bekasi.
- 11 Shafar 1431 H, Pabrik AMDK Kopontren Sidogiri resmi pindah ke Desa Umbulan Winongan Pasuruan dan dimiliki penuh oleh PPS. Sebelumnya berada di Pakoren Rembang Pasuruan.
- Syaban 1428 H, Badan Pers Pesantren (BPP) didirikan sebagai lembaga yang mengontrol, mengatur dan mengarahkan media PPS.
- 11 Jumadal Ula 1431 H. DKS Surabaya (Darul Khidmah Sidogiri) diresmikan oleh Majelis Keluarga.
Kegiatan Pendidikan Pesantren Sidogiri
Kegiatan pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri terdiri dari Madrasiyah (akademik) dan Ma'hadiyah (Kepesantrenan). Pendidikan madrasiyah merupakan pendidikan yang diterima oleh santri di bangku madrasah sementara pendidikan makhadiyah merupakan pendidikan terapan dari apa yang telah diperoleh di madrasah, pendidikan makhadiyah dikemas terpadu dengan aktivitas keseharian santri.
A. Madrasiyah (akademik)Pesantren Sidogiri
Secara tradisional, Pondok Pesantren Sidogiri sebagaimana pondok pesantren lainnya di Indonesia, selama kurang lebih 193 tahun hanya memiliki satu sistem pendidikan yaitu mengaji kepada Pengasuh/kiai. Kegiatan pendidikan hanya berbentuk pengajian bandongan dan sorogan yang merupakan tradisi pendidikan asli dari berbagai pesantren di Jawa dan Madura.
Baru pada masa kepengasuhan KH Abd. Djalil, tepatnya pada 14 Safar 1357 atau 15 April 1938, sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman akhirnya pesantren mengubah sistem pendidikannya dengan penerapan sistem pengajian ma’hadiyah dan sistem pendidikan madrasiyah yaitu dengan mendirikan madrasah yang diberi nama Madrasah Miftahul Ulum (MMU) sebagai pembekalan bagi mereka yang belum mampu mengikuti pengajian ma’hadiyah. Seiring bertambahnya murid, secara bertahap MMU terus melakukan pengembangan dari hari ke hari terutama yang berkenaan dengan sistem. Hingga saat ini, Madrasah Miftahul Ulum memiliki empat jenjang pendidikan: I’dadiyah, Istidadiyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah
B. Ma'hadiyah (Kepesantrenan / Non Akademik)Pesantren Sidogiri
Selain menerima pendidikan di Madrasah, santri juga dibekali pendidikan makhadiyah (non-akademik). Kegiatan makhadiyah lebih komplek karena menyatu dipadukan dengan kegiatan-kegiatan sehari-hari santri. Berikut kegiatan santri sehari hari selain di bangku madrasah:
1. Tahajud, Witir, dan Subuh Berjemaah
Kegiatan ini diikuti seluruh santri dan dimulai pukul 03.30 WIS (dini hari). Setelah mandi atau berwudhu, seluruh santri melaksanakan SalatTahajud dan Witir. Untuk murid kelas VI Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan anggota Kuliah Syariah yang tidak memiliki tugas di Daerahnya, kegiatan ini bertempat di masjid. Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca Asma’ul Husna bersama. Sedangkan untuk murid kelas I sampai V Ibtidaiyah dan murid Istidadiyah, kegiatan ini bertempat di Daerah masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan membaca wirid-wirid mu’tabarah.
2. Takrar Nazham
Kegiatan ini khusus untuk murid kelas I sampai V Ibtidaiyah dan murid Istidadiyah, bertempat di Daerah masing-masing.
3. Kegiatan Pagi
Kegiatan Pagi di daerah dilaksanakan setelah SalatSubuh s.d. pukul 06.00 WIS. Kegiatan ini dilaksanakan di dalam kamar dan dipandu oleh Kepala Kamar. Kegiatan ini diisi dengan pembacaan buku Undang-undang Pondok Pesantren Sidogiri, pembinaan baca kitab, melengkapi makna kitab pelajaran, pengajian kitab, pendidikan baca al-Qur’an dan Salawat Dîba’iyah.
4. Salat Dhuha Berjemaah
Kegiatan ini untuk murid kelas I sampai V Ibtidaiyah dan murid Istidadiyah. Waktunya pukul 06.30 s.d. 06.45 pagi, dan bertempat di Daerah. Sedangkan untuk hari Jumat, salat Dhuha berjemaah diganti dengan musyawarah di Daerah
5. Pengajian Kitab Kuning
Pengajian kitab kuning ada yang diasuh langsung oleh Kiai/Pengasuh, dan ada yang dibacakan guru-guru yang ditunjuk Pengurus bagian pengajian kitab ma’hadiyah atas persetujuan Ketua III PPS. Pengajian kitab kuning oleh Pengasuh adalah kegiatan paling inti di PPS. Bertempat di Surau Daerah H dan harus diikuti oleh: (1) anggota Kuliah Syariah non guru, (2) guru yang sedang tidak bertugas, dan (3) murid Aliyah. Sedangkan santri tingkat Tsanawiyah, Ibtidaiyah, dan Istidadiyah sangat dianjurkan mengikuti pengajian yang diasuh oleh Pengasuh, selama tidak bertentangan dengan kegiatan wajib di madrasah. Materi pengajian kitab kuning oleh Pengasuh di antaranya adalah kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn, Shahîh al-Bukhâri, Fathul-Wahhâb, I’ânatuth-Thâlibîn (pagi); Tafsîr al-Jalâlain (sore); dan Jam’ul-Jawâmi’ (malam).
Sementara itu, mengikuti pengajian kitab yang dibacakan guru-guru juga wajib bagi semua santri PPS. Tempatnya di ruang-ruang MMU atau Daerah, bakda Maghrib setelah pendidikan baca al-Qur’an. Materi pengajian tersebut adalah kitab-kitab kecil dalam bidang Fikih, Akhlak, Tasawuf, Nahwu, dan lainnya. Metode yang digunakan dalam pengajian kitab ini ada yang memakai sorogan, bandongan, juga ada yang berupa pendidikan cara baca kitab.
6. Musyawarah Ma’hadiyah
Kegiatan musyawarah untuk anggota Kuliah Syariah diselenggarakan setiap malam, pukul 09.00 s.d. 10.00 WIS bertempat di ruang-ruang MMU. Khusus malam Selasa, musyawarah dilaksanakan pukul 08.00 s.d. 10.00.
Sedangkan untuk tingkat Tsanawiyah, sesuai ketentuan Daerah dan kelasnya, musyawarah dilaksanakan Selasa pagi pukul 05.30 s.d. 07.00, bertempat di ruang MMU. Dan bagi santri kelas V & VI Ibtidaiyah serta V, VI, dan VII Istidadiyah dilaksanakan Jumat pagi pukul 06.00 s.d. 07.00, bertempat di Daerah.
Selain itu, kegiatan musyawarah ada yang diistilahkan dengan Musyawarah Gabungan antar Daerah, bagi murid kelas III Tsanawiyah. Musyawarah ini membahas masalah wâqi’iyah (banyak terjadi di masyarakat) dan dilaksanakan malam Jumat pukul 09.30 s.d. 11.00 secara bergantian di tiap-tiap Daerah.
7. Salat Zuhur dan Asar Berjemaah
Kegiatan ini untuk murid Ibtidaiyah dan Istidadiyah dimulai pukul 12.20 s.d. 12.45 untuk salat Zuhur dan pukul 03.30 s.d. 03.45 untuk salat Asar. Bertempat di Daerah untuk kelas I sampai V, dan bertempat di masjid untuk kelas VI.
8. Salat Maghrib Berjemaah
Kegiatan ini bertempat di masjid untuk murid kelas VI Ibtidaiyah, murid Tsanawiyah, dan semua anggota Kuliah Syariah yang tidak bertugas di Daerahnya. Sedangkan murid kelas I sampai V Ibtidaiyah dan murid Istidadiyah bertempat di Daerah.
9. Pendidikan Baca al-Qur’an
Pendidikan Baca al-Qur’an (Ta’lîmul-Qur’ân) harus diikuti oleh seluruh santri selain murid kelas VI Ibtidaiyah & III Tsanawiyah, setelah salat Maghrib berjemaah. Kegiatan ini diselenggarakan setiap malam, selain malam Selasa dan malam Jumat. Kegiatan mengaji al-Qur’an bertempat di Daerah untuk anggota Kuliah Syariah dengan cara tadarus. Bertempat di kamar-kamar Daerah untuk murid kelas I sampai V Ibtidaiyah dan murid Istidadiyah. Sedangkan untuk murid kelas I & II Tsanawiyah bertempat di ruang-ruang MMU. Kegiatan ini dipandu oleh seorang mu’allim (guru mengaji) yang ditunjuk Pengurus bagian ta’lîm al-Qur’an.
10. Baca Istighfar dan Salawat Bakda Maghrib
Kegiatan ini dilaksanakan setiap malam untuk kelas VI Ibtidaiyah dan III Tsanawiyah, bertempat di masjid setelah pelaksanaan salat Maghrib berjemaah. Khusus malam Selasa, ditambah dengan murid kelas I dan II Tsanawiyah. Kegiatan ini waktu malam Selasa juga dilaksanakan di Daerah, yang harus diikuti oleh murid kelas I sampai V Ibtidaiyah dan murid Istidadiyah. Di malam Selasa, setelah kegiatan ini diadakan taushiyah (ceramah pencerahan).
11. Baca Burdah
Kegiatan ini dilakukan bergantian setiap malam, sesuai dengan urutan daerah yang ditetapkan Pengurus. Pembacaan Burdah ini dilakukan dengan dua cara, Burdah Keliling dan Burdah di Daerah. Burdah Keliling dibaca sambil mengelilingi komplek pesantren oleh semua santri tingkat Tsanawiyah, sedangkan Burdah di Daerah dibaca bersama di Daerah. Kegiatan ini dilaksanakan pukul 11.30 s.d. 12.00 malam, kecuali bagi daerah-daerah tertentu.
12. Gerak Batin (istighâtsah)
Kegiatan ini bertempat di masjid, diikuti seluruh santri sesuai urutan daerahnya. Waktunya sama dengan pembacaan Burdah, yaitu pukul 11.30 s.d. 12.00 malam. Gerak batin ini diisi dengan membaca Surat-surat Munjiyât yang diakhiri dengan membaca Hizbul-Futûh.
13. Baca Salawat dan Madah Nabi
Pembacaan Salawat dan Madah Nabi dilaksanakan setiap malam Jumat, pukul 07.30 s.d. 08.30 (bakda Isyak). Kegiatan ini bertempat di masjid untuk anggota Kuliah Syariah, dan bertempat di Daerah untuk murid tingkat Istidadiyah, Ibtidaiyah, dan Tsanawiyah. Sedangkan salawat dan madah yang dibaca adalah, Maulid ad-Dîba’i, Maulid al-Barzanji, Syaraful-Anam, dan Simthud-Durar. Dalam satu bulan, empat macam salawat ini dibaca secara bergantian tiap malam Jumat.
14. Baca Râtibul-Haddâd dan Surat al-Kahfi
Pembacaan wirid ini hanya dilaksanakan oleh santri kelas I sampai V Ibtidaiyah dan Istidadiyah, dengan dipandu oleh bagian Ubudiyah Daerah. Kegiatan ini dilaksanakan hari Jumat setelah salat Subuh berjemaah, bertempat di Daerah. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pembacaan Surat al-Kahfi yang diikuti oleh semua warga Daerah. Pelaksanaannya setelah kegiatan salat Subuh berjemaah di masjid dan surau sudah selesai.
15. Baca Surat-Surat Munjiyat
Waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah Jumat sore, pukul 17.00 s.d. 17.30 WIS, bertempat di Daerah.
16. Mengaji ke Pengasuh
Pengajian ini dilaksanakan tiap pukul 08.00 s.d. 11.00 WIS selain Selasa dan Jumat. Kegiatan ini wajib diikuti oleh anggota Kuliah Syariah dan dianjurkan untuk murid Tsanawiyah. Kitab-kitab yang diajikan meliputi, Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, Fathul-Wahhâb, Shahîh Bukhâri, Hâsyiyah al-Bannâni, dll.
17. Diskusi Ilmiah
Kegiatan ini rutin digelar tiap bulan oleh forum-forum kajian di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI) secara bergilir. Kegiatan ini hanya diikuti oleh anggota Kuliah Syariah. Kegiatan diskusi meliputi: kajian tafsir, fikih, dan hadits serta beberapa diskusi umum.
Pendaftaran Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Indonesia
Untuk informasi pendaftaran bisa langsung buka website resmi Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Indonesia klik http://sidogiri.net
Alamat dan Nomor Telepon Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Indonesia
Alamat : PO BOX 22 Pasuruan 67101 Sidogiri Kraton Pasuruan Jatim
Telepon : 0343-410444/0343-420444 ext. 0
Faks : 0343-428751
Peta Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Indonesia
0 Response to "Info Lengkap Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Indonesia"
Posting Komentar